Sabtu, 01 Maret 2014

Manj.Kepemimpinan Pendidikan: Perspektif Kepemimpinan Sekolah pada Novel "Totto-chan: Gadis kecil di Jendela" karangan Tetsuko Kuroyanagi


Novel karangan Tetsuko Kuroyanagi ini merupakan salah satu novel inspiratif yang mungkin merupakan salah satu bacaan wajib bagi guru. 
Nah, dalam perspektif sebuah kepemimpinan, 
seperti apa perspektif kepemimpinan yang diambil kepala sekolah tersebut??


Oleh: Marwi Hendrianto 
Sosok kepala sekolah, memiliki peran penting sebagai pemimpin dan panutan bagi rekan-rekan sejawat. Soewadji Lazaruth (1994:20) menjelaskan 3 fungsi kepala sekolah, yaitu sebagai administrator pendidikan, supervisor pendidikan, dan pemimpin pendidikan. Kepala sekolah berfungsi sebagai administrator pendidikan berarti untuk meningkatkan mutu sekolahnya, seorang kepala sekolah dapat memperbaiki dan mengembangkan fasilitas sekolahnya misalnya gedung, perlengkapan atau peralatan dan lain-lain yang tercakup dalam bidang administrasi pendidikan. Lalu jika kepala sekolah berfungsi sebagai supervisor pendidikan berarti usaha peningkatan mutu dapat pula dilakukan dengan cara peningkatan mutu guru-guru dan seluruh staf sekolah, misalnya melalui rapat-rapat, observasi kelas, perpustakaan dan lain sebagainya. Dan kepala sekolah berfungsi sebagai pemimpin pendidikan berarti peningkatan mutu akan berjalan dengan baik apabila guru bersifat terbuka, kreatif dan memiliki semangat kerja yang tinggi. Suasana yang demikian ditentukan oleh bentuk dan sifat kepemimpinan yang dilakukan kepala sekolah
Menurut E. Mulyasa(2007:92-188), kepala sekolah mempunyai 7 fungsi utama:
  1. Kepala Sekolah Sebagai Educator (Pendidik)
  2. Kepala Sekolah Sebagai Manajer
  3. Kepala Sekolah Sebagai Administrator
  4. Kepala Sekolah Sebagai Supervisor
  5. Kepala Sekolah Sebagai Leader (Pemimpin)
  6. Kepala Sekolah Sebagai Inovator
  7. Kepala Sekolah Sebagai Motivator
Gaya kepemimpinan kepala sekolah dapat menumbuh-suburkan kreativitas sekaligus dapat mendorong terhadap peningkatan kompetensi guru. Dalam teori kepemimpinan setidaknya kita mengenal dua gaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, seorang kepala sekolah dapat menerapkan kedua gaya kepemimpinan tersebut secara tepat dan fleksibel, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Kepemimpinan seseorang sangat berkaitan dengan kepribadian, dan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin akan tercermin sifat-sifat sebagai berikut: jujur, percaya diri, tanggung jawab, berani mengambil resiko dan keputusan, berjiwa besar, emosi yang stabil, dan teladan.
Perspektif merupakan sebuah sudut pandang seseorang dalam melihat sebuah hal. Katherine Miller dalam bukunya Communication Theories: Perspectives, Processes, and Contexts (2005), mendefinisikan perspektif sebagai cara atau metode untuk melihat atau mengamati berbagai fenomena/keadaan/situasi di sekeliling kita. Pilihan perspektif yang diambil seseorang memiliki implikasi pada teori dan metodologi yang digunakan dan dikuasai serta dipahami seseorang dalam memahami suatu fenomena atau realitas.
Dalam sebuah sekolah, pengambilan kebijakan merupakan sebuah hal yang cukup penting. Kebijakan yang tepat akan turut serta meningkatkan kualitas pendidikan yang ada dalam suatu sekolah. Menurut Carl Friedrich, kebijakan merupakan suatu usulan arah tindakan atau kebijakan yang diajukan oleh seseorang, kelompok, atau pemerintah guna mengatasi hambatan atau untuk memanfaatkan kesempatan pada suatu lingkungan tertentu dalam rangka mencapai suatu tujuan atau merealisasikan suatu sasaran. Sejalan dengan hal tersebut, Amara Raksasataya juga mengungkapkan, bahwa kebijakan merupakan sebuah keputusan sebagai suatu taktik dan strategi yang diarahkan untuk mencapai suatu tujuan.
Dalam novel “Toto-chan: Gadis Kecil Di Jendela” karangan Tetsuko Kuroyanagi, sekolah Tomoe Gakuen berpandangan bahwa pendidikan merupakan hak bagi setiap anak, tanpa pandang bulu, baik itu normal maupun cacat. Banyak sekali kebijakan-kebijakan ekolah tersebut yang tidak kongruen dengan kebanyakan sekolah yang ada di Jepang. Perbedaan ini merupakan sebuah terobosan, dan keberanian dari seorang pemimpinan sekolah dalam mengambil kebijakan. Sosok Sosaku Kobayashi sebagai kepala sekolah, berani mengambil kendali dalam membuat pebedaan pelaksanaan pengajaran kepada para siswa. Penerapan ini merupakan sebuah tanggung jawab besar dan tidak lepas dari sebuah cara pandang yang berbeda.
Dalam novel tersebut penulis menulis sosok Sosaku Kobayashi sebagai pemimpin yang luar biasa. Banyak sisi positif dari sosok kepala sekolah tersebut dalam memandang sebuah masalah. Berikut merupakan sebuah cara pandang Sosaku Kobayashi yang dapat ditangkap dalam permasalahan pendidikan di dalam novel:
  1. Pendidikan merupakan sebuah kebutuhan, tidak boleh ada diskriminasi bagi calon peserta didiknya.
  2. Dalam sebuah perjalanan menuju kedewasaan, seorang anak/peserta didik memerlukan sebuah kepercayaan dari orang dewasa terhadap pekerjaan atau permasalahan yang tengah ia hadapi.
  3. Interaksi langsung dengan sumber belajar diyakini menambah semangat anak untuk senantiasa ingin tahu, mengingat berinteraksi juga dapat dimaksudkan mencari pengalaman. Sebuah hal yang lama terkenang biasanya merupakan kenangan dari pengalaman-pengalaman yang berkesan.
  4. Pendidikan yang sifatnya normatif tidak bisa dipaksakan untuk dipelajari secara teoritis kepada siswa.
  5. Pendidikan adalah kebebasan yang setiap orang, termasuk siswa. Dalam konteks ini pembelajaran dengan sifat menyenangkan merupakan hal yang harus ditanamkan pada siswa/peserta didik.
  6. Hubungan antara sekolah, siswa dan orang tua dianggap sebagai sebuah mata rantai yang terus saling berhubungan dan tidak boleh terputus, pendidikan harus membersamai ketiganya.
Dalam kapasitas sebagai seorang pemimpin, sosok Sosaku Kobayashi paham betul harus kemana dan seperti apa sekolah Tomoe Gakuen akan berjalan. Sebagai pucuk pimpinan dari sebuah sekolah, sosok tersebut menuangkan hasil pandangnya menjadi beraneka kebijakan-kebijakan yang dilaksanakan dalam sekolah Tomoe Gakuen. Hal itu menjadi sebuah perspektif baru bagi seorang pembaca yang tengah menyelami dunia kepemimpinan. Berikut merupakan perspektif kepemimpinan kepala sekolah Tomoe Gakuen dalam pengambilan kebijakan:
  1. Sebagai pimpinan sosok Sosaku Kobayashi mau menerima secara langsung peserta didiknya, menyadari bahwa pemimpin adalah pelayan, pendamping dan pengayom bagi bawahannya. Dalam konteks cara pandang bahwa Pendidikan merupakan sebuah kebutuhan, tidak boleh ada diskriminasi bagi calon peserta didiknya, Kobayashi menerima Toto-chan, seorang anak yang dicap nakal oleh sekolahnya terdahulu. Kepala sekolah mendistribusikan cara pandang ini kedalam sebuah kebijakan pengajaran di kelas dengan kebebasan setiap siswa untuk memilih tempat duduknya sesuka hati.
  2. Masing-masing struktur dalam kepengurusan sekolah memiliki peranan masing-masing. Guru, siswa, kepala sekolah secara terstuktur, menanggung peranannya sendiri. Kepala sekolah dalam kapasitasnya sebagai pemimpin dan leader memiliki sebuah tanggung jawab kepemimpinan. Pada konteks kependidikan, cara pandang Sosaku Kobayashi mengenai sebuah perjalanan menuju kedewasaan, seorang anak/peserta didik memerlukan sebuah kepercayaan dari orang dewasa terhadap pekerjaan atau permasalahan yang tengah ia hadapi menghasilkan kebijakan pola pemilihan pembelajaran yang bebas di dalam kelas, maupun kebijakan bahwa setiap siswa diwajibkan memiliki dan merawat suatu pohon. Ia memandang sebagai seorang pemimpin perlu dilakukan hal tersebut.
  3. Sosaku Kobayashi menerapkan kebijakan terkait Interaksi langsung dengan sumber belajar melalui banyak kegiatan sekolah, seperti rekreasi, berkemah, dll. Dalam cara pandang seorang pimpinan kebijakan tersebut diyakini menambah semangat anak untuk senantiasa ingin tahu, mengingat berinteraksi juga dapat dimaksudkan mencari pengalaman.
  4. Pendidikan yang sifatnya normatif tidak bisa dipaksakan untuk dipelajari secara teoritis kepada siswa. Hal tersebut merupakan sebuah perspektif yang perlu dikelola dan diwujudkan keberadaanya secara riil dalam pembelajaran yang berlangsung. Sehingga sebagai seorang pimpinan dirasa perlu untuk mengambil kebijakan yang terkait hal tersebut. Kepemimpinan kepala sekolah Tomoe Gakuen menjembatani hal itu dengan menyelipkan petuah-petuah tersembunyi terkait hal-hal tersebut, hal-hal yang sifatnya dapat dipraktikan dan diamalkan oleh siswa.
  5. Pendidikan adalah kebebasan yang setiap orang, termasuk siswa. Dalam konteks ini pembelajaran dengan sifat menyenangkan merupakan hal yang harus ditanamkan pada siswa/peserta didik. Cara pandang kepemimpinan seorang kepala sekolah terhadap hal tersebut tertuang dalam kebijakan kebebasan memilih pelajaran dikalangan siswa tomoe gakuen.
  6. Kepercayaan orang tua terhadap anaknya, menghilangkan kehawatiran dan prasangka orang tua terhadap sekolah, keterlibatan orang tua dalam pengambilan keputusanjuga dirasa penting dan menjadi cara pandang kepala sekolah dalam pengambilan kebijakan terkait hubungan antara sekolah, siswa dan orang tua dianggap sebagai sebuah mata rantai yang terus saling berhubungan dan tidak boleh terputus.
Perspektif kepemimpinan seorang Sosaku Kobayashi memegang peranan penting dalam setiap pengambilan keputusan yang ada di sekolah Tomoe Gakuen. Hal tersebut cukup baik, dengan memposisikan dimana letak dirinya dalam sebuah kepemimpinan, kebijakan-kebijakan dalam sekolah tersebut menjadi lebih visioner dan jelas. Dalam novel “Toto-chan: Gadis Kecil Di Jendela” karangan Tetsuko Kuroyanagi, terdapat banyak sekali inspirasi yang bisa menjadi khasanah ilmu bagi seorang pembaca, termasuk dalam konteks kepemimpinan itu sendiri. Diantara inspirasi dalam penggambaran tersebut ialah bahwasanya seorang pemimpin diharuskan memiliki wawasan yang luas dalam menghadapi berbagai masalah yang ada. Seorang pemimpin juga harus bijak dalam pengalokasian kepemimpiannya dalam pembentukan kebijakan.

download makalah selengkapnya DISINI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar